Seorang teman lama saya yang cukup religius mengirimkan e-mail yang berisi pandangan mengenai "Menahan Ijazah" dari sudut pandang agama Kristen. :p
Inspirasi ini muncul ketika dalam perjalanan mendengar di radio disiarkan tentang adanya perusahaan2 yang menahan ijasah karyawannya, dan ada diantara mereka yang bahkan meminta sejumlah uang sebagai tebusan atas ijasah mereka ketika mereka keluar dari perusahaan. Bagaimana sebenarnya pandangan Alkitab terhadap sikap ini?
Yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah peraturan perusahaan ini sudah dilaporkan ke Departemen Tenaga kerja? Mengingat bahwa sebenarnya ketika suatu perusahaan membuat peraturan untuk tenaga kerjanya, ia harus memberikan rincian peraturannya ke Departemen Tenaga kerja terlebih dahulu, lalu mereka akan memberikan persetujuan dengan mencapnya sebagai suatu peraturan yang sudah disetujui.
Akan tetapi, dalam bahan renungan ini, saya tidak ingin membicarakan tentang hukum perburuhan, akan tetapi lebih menekankan dalam segi rohaninya saja.
Marilah kita renungkan, apa yang alkitab katakan ketika kita mempekerjakan seseorang dan harus membayar gajinya.
Ulangan 24: 15 dikatakan “Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu. (Apa dampaknya kepada hubungan kita kepada Allah ketika kita menahan upah mereka menurut ayat ini?)
Imamat 19: 13 dikatakan “Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. (jadi, apakah Allah berkenan kepada kita ketika kita menahan upah mereka? Apakah penekanan 3x kata “jangan” suatu hal yang tidak ada artinya?)
Maka, apa dampaknya ketika praktek ini kita perbuat terus?
Yeremia 22: 13 dikatakan “Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya; (Mengapa di ayat ini dikatakan “Celaka” ketika tidak memberikan upah kepada pekerja?) Mari kita simak jawabannya di kitab maleakhi.
Maleakhi 3: 5 dikatakan “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Perhatikan!! Allah sendiri yang akan menghakimi kita ketika kita mencurangi orang2 upahan. Apakah kita akan menganggap ini suatu angina lalu?)
Bahkan ketika ada orang yang memiliki hutang dan ada baju yang dijadikan jaminannya, bagaimana kalau kita menahan baju hangatnya?
Keluaran 22: 26-27 dikatakan “Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih." (Perhatikan!! Bagaimana kalau yang ditahan adalah baju yang dikatakan satu2nya yang dimilikinya, apakah boleh kita tahan menurut ayat ini? Sekarang, berapa banyak seseorang punya ijasah SD, SMP, SMA dalam hidupnya? Satu, bukan? Bagaimana kalau ijasah itu kita tahan? Bagaimana ia dapat melamar pekerjaan lagi? Bagaimana pandangan Allah terhadap kita?)
Mazmur 34: 6 dikatakan “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. (Kalau ada seekor anjing yang menggigit seorang anak, dan kita ingin membebaskannya dari gigitan tersebut? Apakah kita akan mengelus2 anjing itu? Bukankah kita akan menderanya dengan keras sehingga ia kesakitan dan melepaskan gigitannya? Bagaimana kalau yang menyebabkan kesesakan yang menyakitkan hati itu adalah ulah kita? Apakah Allah akan memuji kita? Bukankah Allah akan memberi pelajaran yang keras kepada kita, untuk menyadarkan kita?)
Maka, marilah kita renungkan cara2 kita berbisnis, ini bukan hanya yang memiliki perusahaan, akan tetapi bahkan sikap kita kepada orang2 upahan yang ada dalam rumah tangga kita. Mengapa ini penting untuk kita pikirkan? Matius 7: 2 dikatakan “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”