3x Lipat

Teman-teman pasti sering dengar kasusnya pengusaha kaya raya yang sering keluar masuk rumah sakit dikala tua dikarenakan kesehatannya yang hancur-hancuran. Kadang saya berpikir, hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena karma - ya, mungkin di masa muda beliau adalah penguasa tirani kantor yang menindas anak buahnya dan menyebabkan begitu banyak sakit hati tak terkira, dan hal ini berbalik kepada dirinya tiga kali lipat dikala ia tua, dimana seharusnya ia menikmati hasil jerih payahnya setelah hampir sekian dekade menjilat, namun semuanya habis karena biaya operasi, opname, berobat ke luar negeri, dll.

Saya yakin, seorang pemimpin perusahaan yang benar pasti jarang punya masalah kesehatan. Tidur pun nyenyak dikala malam. Bebas dari rasa bersalah karena telah membuat bawahan menderita. Bebas dari rasa takut karena dimarahi atasan maupun makian bawahan. Bebas dari rasa cemburu atau iri hati karena rekan kerja lebih berhasil kendati dikarenakan keahliannya menjilat pantat atasan. Pokoknya, bebas dari tekanan mental lah. Seperti yang sudah kita ketahui, banyak sekali penelitian yang menemukan bahwa sebab akibat seseorang menderita begitu banyak penyakit dikarenakan karena kondisi emosinya yang tidak stabil. Adapun jenis penyakit yang berhubungan dengan ketidakstabilan emosi ini antara lain adalah darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, asam urat dan kelainan ginjal.

Mengapa saya jadi punya pikiran seperti ini?

Dulu di kantor dimana saya dan pacar saya pernah bekerja, terdapat seorang ibu Manager yang sudah ngetop dengan status killer-nya. Kalau marah kata-katanya pedas, belum lagi kalau sedang bad mood, semua orang yang dekat dengannya pasti kena imbas. Kelakuannya ini juga didukung dengan sikapnya yang selalu tidak mempercayai siapapun dan cenderung mencurigai semua orang itu jahat alias paranoid.

Pernah suatu waktu, teman saya yang menjadi bawahan si Manager killer ini berniat melanjutkan jenjang pendidikannya ke S1 dan untuk itu ia bermaksud mengambil kuliahan Sabtu-Minggu. Pihak penyelenggara pendidikan menyarankan teman saya untuk meminta persetujuan perusahaan, meskipun hari-hari kuliahnya tidak mengganggu hari-hari kerja. Akan tetapi betapa kagetnya teman saya karena si Manager dengan juteknya menjawab, "Kamu harus minta tanda tangan yang punya perusahaan dulu, baru kamu boleh kuliah S1."

Teman saya jadi sadar, bahwa si Manager killer ini sama sekali tidak suka kalau bawahannya lebih pintar dari atasan, makanya mau kuliah S1 pun dilarang-larang. Padahal kalau atasan yang pikirannya benar, sudah bukan main senang punya bawahan yang mau mengembangkan dirinya, dengan begitu ia punya banyak bawahan-bawahan yang pintar, bukannya malah merasa terancam, bukan begitu?

Kemudian saya juga mendengar perihal si Manager killer ini menuduh bawahan lain, sebut saja si Donny, bahwa ia telah mencuri data perusahaan. Padahal kejadian yang sebenarnya adalah si Donny ini sedang sibuk bikin CV pakai komputer kantor, namun karena tidak semua komputer ada printer, ia tak urung harus menyimpan CV-nya di disket untuk memindahkan file CV ke komputer yang tersambung dengan printer. Namun sedemikian parahnya tuduhan tersebut, sehingga pada hari itu juga si Donny diminta mengemas semua barang-barangnya dan pergi dari kantor, dipecat selama-lamanya.

Puncak-puncaknya adalah pacar saya sendiri yang pada suatu waktu mengajukan untuk mengundurkan diri. Meskipun sudah dapat info dari HRD kalau masing-masing karyawan cukup memberikan 1-month notice sebelum resign, si Manager killer memaksa bahwa pacar saya harus tetap kerja sampai 2 bulan, dan juga jatah cuti tidak boleh diambil. Karena pacar saya sudah diterima bekerja di tempat lain dan ia diharuskan bekerja dalam waktu lebih cepat dari 2 bulan, ia tidak punya pilihan selain tidak mematuhi mandat 2 bulan dari si Manager killer tersebut.

Akan tetapi apa yang terjadi? Di akhir bulan, gaji pacar saya tidak ditransfer. Tidak peduli bahwa di masa kerjanya pacar saya itu sudah cukup berbakti pada nusa bangsa perusahaan dengan menunjukkan kinerja diatas rata-rata. Hanya karena ia tidak menuruti kemauan si Manager yang egois, gaji pun ditahan dan tidak ada kejelasan mengapa.

Hari ini saya baru saja mendengar bahwa si Manager killer yang memang saat kami resign sedang hamil tua, baru saja melahirkan bayi prematur, dan kemudian bayinya tersebut meninggal karena kelainan ginjal.

Sungguh mengerikan cara Tuhan membalas, 3x lipat dari kejahatan yang telah dilakukan.

3 komentar:

Takky mengatakan...

Makanya jadi orang jangan keterlaluan jahatnya. Hukum karma pasti ada...

choro99 mengatakan...

hmmm..itu asli apa fiktif pak?ngeri juga ya,sekarang karma dateng lebih awalll(termasuk karyawan teladan juga tuh si karma)

Therry mengatakan...

g100% asli. Malahan gw baru dapat update-an kalo bayinya itu meninggalnya pas di hari Lebaran. Serem yah..